Kalender Kegiatan

No events
September 2016
S M T W T F S
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 1

Login Pengguna

Artikel

Keuskupan Agung Samarinda

Diterbitkan pada 26 Agustus 2009

Keuskupan Agung Samarinda adalah wilayah teritorial Gereja Katolik Roma yang mencakup Kalimantan Timur bagian Selatan. Wilayah geografisnya mencakup Kota Samarinda, Kota Balikpapan, Kota Bontang, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Timur, Kabupaten Pasir dan Kabupaten Penajam Paser Utara.

Keuskupan Agung Samarinda memiliki 3 keuskupan sufragan yaitu Keuskupan Sufragan Tanjung Selor, Keuskupan Sufragan Banjarmasin dan Keuskupan Sufragan Palangkaraya. Pada tahun 2004 tercatat terdiri dari 23 paroki, dilayani oleh 35 imam untuk 122.428 umat dengan persentase populasi Katolik 5,2%.

Sejarah

Pada tahun 1907, tiga imam Kapusin tiba di hulu Sungai Mahakam setelah menempuh perjalanan menembus jantung Kalimantan dari arah Barat melalui hulu Sungai Kapuas. Mereka menetap di kampung Laham, mempelajari budaya setempat dan membuka sekolah Katolik pada tahun 1911. Pembaptisan orang suku Dayak pertama dilakukan pada tahun 1913. Karena ordo Kapusin kekurangan tenaga imam, sementara misi di Kalimantan Barat juga berjalan lancar, sehingga pada tahun 1926 tiga orang dari Misionaris Keluarga Kudus tiba di Laham dari Belanda. Pada tahun 1928 pusat misi dipindahkan ke hilir, yaitu ke Tering. Selanjutnya beberapa stasi dibuka, baik di hulu Sungai Mahakam seperti di Long Pahangai dan Tiong Ohang pada tahun 1936 dan Barong Tongkok tahun 1937 maupun di daerah-daerah pesisir dan hilir Sungai Mahakam seperti di Balikpapan tahun 1930, Pulau Tarakan tahun 1934 dan Samarinda tahun 1933. Karena perkembangan ini, maka pada tahun 1938 Prefektur Apostolik Bandjarmasin dibentuk, dipisahkan dari Vikariat Apostolik Borneo Belanda di Pontianak. Tahun 1949 status Prefektur Apostolik ditingkatkan menjadi Vikariat Apostolik. Pada tanggal 21 Februari 1955 wilayah Kalimantan Timur dipisahkan dengan membentuk Vikariat Apostolik Samarinda dan statusnya ditingkatkan menjadi keuskupan penuh pada tanggal 3 Januari 1961. Pada tanggal 9 Januari 2002 wilayah keuskupan dikurangi dengan dibentuknya Keuskupan Tanjung Selor, sedangkan sejak tanggal 29 Januari 2003 status Keuskupan Samarinda yang tadinya merupakan keuskupan sufragan dari Keuskupan Agung Pontianak ditingkatkan menjadi provinsi gerejani baru, yaitu keuskupan agung Samarinda dengan 3 keuskupan sufragan.

Karya pendidikan dirintis oleh Suster-suster Misi dan Adorasi dari S. Familia atau MASF yang membuka sekolah di Balikpapan pada tahun 1948 dan kemudian rumah sakit di Tering pada tahun 1949. Seminari menengah juga dibuka di Samarinda pada tahun 1954.

Uskup

  • Jacques Henri Romeijn, M.S.F., sejak 10 Juli 1955 hingga mengundurkan diri 11 Februari 1975
  • Michael Cornelis C. Coomans, M.S.F., sejak 30 November 1987 hingga wafat 6 Mei 1992
  • Florentinus Sului Hajang Hau, M.S.F., sejak 5 April 1993 hingga wafat 18 Juli 2013
  • Yustinus Harjosusanto, M.S.F., sejak 16 Februari 2015

Mgr. Yustinus Harjosusanto M.S.F.

 

Saat ditahbiskan sebagai Uskup Tanjungselor, Mgr Harjo memilih moto penggembalaan Fiat Voluntas Tua, Terjadilah Kehendak-Mu (Mat 10:6). Semangat ini pula yang akan dibawa Mgr Harjo ke Keuskupan Agung Samarinda. Moto itu menjadi pegangan pokok dalam melaksanakan tugas dan diharapkan dapat menjadi pegangan serta pedoman seluruh umat. Diharapkan, umat Katolik di Samarinda dapat menomorsatukan kehendak Allah, bukan kehendak pribadi atau kelompok tertentu.
 
Perisai
Tuhan yang menjadi dasar dan perisai hidup manusia
 
Saung
Penutup atau pelindung kepala orang Kalimantan, yang berfungsi sebagai pelindung ketika bekerja di ladang, menyimbolkan perlindungan Allah dalam hidup dan kegiatan sehari-hari.
 
Burung Merpati
Di atas saung, terdapat burung merpati yang melambangkan Roh Kudus yang selalu menyertai.
 
Mandau dan Tombak
Menyimbolkan kesatria yang membela kebenaran, menegakkan keadilan, membela tanah air, juga melambangkan keberanian untuk memerangikejahatan. Simbol-simbol yang diambil dari daerah setempat juga memberi pesan untuk bersama-sama membangun Gereja yang hidup dan mengakar pada Kristus, dasar hidup Gereja, dan budaya lokal tempat umat Allah berada dan hidup.
 
Pohon Sagu
Jenis pohon yang menjadi sumber kehidupan manusia. Salah satu ciri khas pohon yakni menghidupi dengan memberikan dirinya. Allah mencintai manusia dan menyelamatkan dengan memberi diri dalam Yesus Kristus.
 
Tongkat
Melambangkan tugas kegembalaan uskup bagi kawanan yang dipercayakan kepadanya.
 
Gunung, Air, Ombak, dan Dayung
Konteks kehidupan yang menjadi medan dan sarana awal kehidupan di daerah ini.

 

 

sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Keuskupan_Agung_Samarinda

sumber: http://www.hidupkatolik.com/2015/04/21/fiat-voluntas-tua

Share

Berlangganan Warta

Silakan masukkan Nama dan Email untuk berlangganan Warta dari website secara teratur.


Receive HTML?

Pengunjung

441214
Hari IniHari Ini76
KemarinKemarin1025
Minggu IniMinggu Ini4509
Bulan IniBulan Ini33564
IP Anda : 54.235.46.164
Pengguna 0
Tamu 5
Sedang Aktif
-

Informasi Umum

Misa Mingguan

Sabtu 17:30
Minggu 08:00, 17:30

Misa Harian

Senin-Jumat 17:30

Alamat Surat
Paroki Santa Theresia Balikpapan
 
Jalan Prapatan RT 23 No 1A 
Telpon 0542-421952 
Balikpapan

Pastor Paroki:
P. Frans Huvang Hurang MSF

Pastor Rekan:
P. Krispinus Andy Hasti MSF
P. Yan Mangun, Pr.

Suara Umat
suaraumat@santatheresia.org