Kalender Kegiatan

No events
April 2020
S M T W T F S
29 30 31 1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 1 2

Login Pengguna

Artikel

Jules Chevalier

Diterbitkan pada 22 Mei 2011
Ditulis oleh Administrator

Tanggal 28 Mei 2011 merupakan Hari Raya ”Bunda Hati Kudus”. Gelar dan devosi Bunda Hati Kudus (Notre Dame du Sacré-Coeur; Our Lady of the Sacred Heart) tidak bisa dilepaskan dari Pater Jules Chevalier, pendiri Tarekat MSC dan PBHK serta pada tahun 1858 dimulainya pembangunan gereja Basilika Bunda Hati Kudus, hingga  tgl. 7 Juli 1864 bangunan tersebut selesai dan diberkati. Beberapa data penting tentang Jules Chevalier, yakni :

1824 – Jules Chevalier lahir pada 15 Maret 1824. Ia anak bungsu dari tiga bersaudara, yang keesokkan harinya langsung dibaptis dengan nama «Jean-Jules», di Richelieu. Bapaknya bermana Charles Chevalier. Ibunya bernama Louise Orly.

1841 – Di bulan Oktober, dalam usia agak terlambat 17 tahun, ia masuk seminari kecil di St Gaultier, wilayah keuskupan Bourges.

1846-1851 – Jules melanjutkan masuk seminari tinggi di Bourges. Tanggal 14 Juni 1851, Jules ditahbiskan di katedral St Stefanus, Bourges. Tulis Pater Chevalier: « Saya merayakan perayaan misa pertama dalam kapel kecil di taman. Kapel itu dipersembahkan pada Bunda Perawan. Pada saat konsekrasi, misteri yang agung serentak ketaklayakanku, benar-benar membuat saya mencucurkan air mata. Agar saya dapat menyelesaikan misa itu, saya harus dikuatkan kembali oleh imam konselebranku. Itu hari yang tak pernah kulupakan.”

1851-1854 – Tiga hari setelah pentahbisannya, ia langsung pergi ke tempat tugasnya. Pertama ia bertugas sebagai pastor pembantu di kam-pung kecil Ivroy-le-pré (17 Juni 1851), lalu di Châtillon-sur-Indre (21 Januari 1852), dan di Aubiny-sur-Nère (14 Oktober 1853). Pada 20 Oktober 1854, Pater Jules Chevalier tiba di Issoudun, dan menjabat sebagai pastor pembantu di paroki St Cyr, Issoudun.

1855 – 9 September: Pendirian Tarekat MSC mendapat restu eklesial. Diresmikan oleh Kardinal Du Pont, Uskup Agung Bourges. Chevalier memikirkan gelar Bunda Hati Kudus untuk Maria sebagai tanda syukur.

1857 – Untuk mengucapkan rasa terima kasih mereka pada Bunda Perawan Maria, atas peranannya yang besar hingga lahir tarekat MSC, Pater Chevalier mencetuskan untuk pertama kali nama yang indah ini: « Bunda Hati Kudus ». Nama, temuannya, ini mulai dipublikasikan kemudian pada tahun 1859. Juga atas permintaan para awam, lahirlah kemudian Fraternitas BHK. Majalah Les Annales Bunda Hati Kudus diterbitkan tahun 1866, yang dipimpin oleh Pater Victor Jouët MSC

1858 – Dimulainya pembangunan gereja indah Basilika Bunda Hati Kudus. Baru tgl 7 Juli 1864 bangunan tersebut selesai dan diberkati.

1869 – Pemahkotaan patung pertama Bunda Hati Kudus, atas nama Paus, dalam kapel Bunda Hati Kudus. Perayaan misa mulia dan agung menandai peristiwa bersejarah tersebut pada tgl 8 September. Itulah hari ziarah terbesar jumlahnya dalam sejarah tempat ini. Sekitar 40 uskup dan 400 imam yang hadir.

1874 – Tgl 30 Agustus, Pater Chevalier mendirikan tarekat Putri-putri Bunda Hati Kudus (PBHK).

1880 – Tahun penuh bencana! Semua kaum religius di daratan Prancis dikejar-kejar. Akan tetapi, kelak patut disyukuri, saat itulah buah evangelisasi tumbuh di mana-mana di dataran Eropa: Belanda, Belgia, Austria, Jerman, Spanyol, Italia, Inggris dan Irlandia.
Tgl 25 Maret, Kadinal Simeoni, atas nama Paus Leo XIII, mengusulkan misi Melanesia dan Micronesia pada Tarekat MSC. Disetujui. Lima misionaris pertama MSC diutus, namun tiga yagn smapai, yakni : Pater Navarre, Pater Cramaille dan Bruder Fromm. Tgl 1 September 1881 mereka meninggalkan pelabuhan Barcelona. Era sebagai misionaris dimulai yang berlanjut hingga hari ini, para MSC sudah hadir di semua benua.

1901 – Sekali lagi terlihat Pemerintah Prancis dengan serius menentang gereja melalui undang-undang anti-religius. Seluruh milik harta, kompleks, gedung gereja, baik milik MSC maupun suster PBHK diambil oleh pemerintah.

1905 – Lahirlah UU pemisahan Gereja dan Negara.

1907 – Tgl 21 Oktober. «Dengan perasaan sedih saya memberitahukan kepada anda tetang kematian Rev. Pater Chevalier, pada pkl 18.00, tadi malam. Kematiannya yang tenang dan jernih membawa penghiburan dalam kesedihan kami… », tulis Pater E. Meyer MSC.

Asal Usul Devosi dan Gelar Bunda Hati Kudus

Pater Chevalier senang menceriterakan asal mula gelar dan devosi tersebut. Menurutnya untuk mengerti asal mulanya kita harus kembali ke peristiwa 8 Desember 1854:

“Untuk menemukan asal mula devosi kepada Bunda Hati Kudus, sebagaimana kita kenal sekarang, kita harus kembali ke peristiwa 8 Desember 1854, hari kenangan pemakluman dogma Maria Dikandung Tanpa Noda.”

Lalu ia menjelaskan mengenai asal mula Tarekat Misionaris Hati Kudus, yang tidak lepas dari : – novena kepada Maria tanpa noda, yang dibuka pada 30 Nopember dan berakhir pada 8 Desember 1854; – cara doa-doa mereka dikabulkan melalui tanda yang diterima pada hari kesembilan; – keadaan yang mendorong mereka untuk mengadakan novena kedua kepada Bunda Kita, dari 28 Januari (pesta Hati Maria tanpa noda) sampai dengan 6 Pebruari; – dan bagaimana doa-doa mereka dikabulkan lagi. Namun nyatanya tanda kedua ini tidak cukup untuk meyakinkan para anggota Dewan dari Uskup Agung Dupont mengenai kelayakan pembentukan Tarekat yang diusulkan: “Proyek itu ditolak secara aklamasi.”

“Rekanku yang terkasih, kata Pemimpin Seminari Tinggi Bourges kepada Pater Chevalier, “lupakan saja gagasan itu karena sudah menemui ajal sejak awal……” Tetapi Pater Chevalier menanggapi: “Jangan secepat itu, Pater Pemimpin! Perawan Terberkati belum memberikan kata terakhirnya; kami akan terus berdoa kepadanya.” “Baiklah, memang anda harus berdoa dan bilamana doa itu dikabulkan, dia akan mengerjakan suatu mukjizat besar.”

Maka Pater Chevalier dan Maugenest berdoa lagi kepada Bunda Kita, meskipun hal ini bukan dalam bentuk novena. “Mukjizat besar” dikerjakannya! Kali ini tanda yang diterima bukanlah perubahan pikiran dari para anggota Dewan Uskup, tetapi perubahan prosedur dari pihak Uskup Agung, Kardinal Dupont. Meskipun beliau tidak biasa bertindak berlawanan dengan nasehat dewannya, kali ini ia membuat pengecualian dan memberi otorisasi kepada kedua imam pembantu paroki Issoudun untuk membentuk suatu Tarekat.

Bagi Pendiri bantuan yang diterima dari Bunda Kita selama masa genting kehidupannya merupakan suatu pengalaman mendalam. Baginya hal itu merupakan bukti bahwa pembentukan Tarekat Misionaris Hati Kudus merupakan kehendak Allah, dan bahwa Bunda Kita menyertai dia dalam proyek ini. Kenyataannya, dalam suatu versi “Kontrak antara Maria dan kedua imam Hati Kudus”, pasal III, kedua pendiri berjanji :

“Sebagai tanda terima kasih kepada Maria, mereka akan memandang dia sebagai Pendiri dan Pemegang Kedaulatan mereka. Mereka akan menyatukan diri dengannya dalam segala karya serta berupaya agar dia dicintai secara khusus.”

Perasaan-perasaan syukur serta janji sedemikian memenuhi pikiran dan hati mereka sehingga tepat pada hari peresmian sebagai Misionaris Hati Kudus, 12 September 1855, pesta Nama Suci Maria, mereka tidak hanya merenungkan makna nama mereka, tetapi juga mulai memikirkan Maria sebagai Bunda Hati Kudus. Bukankah Bunda Kita adalah juga seorang Misionaris Hati Kudus? Bukankah dia menyertai mereka dalam usaha ini?

Selama bertahun-tahun Pater Chevalier merenungkan hal ini dalam keheningan, tetapi nampaknya ia baru berbagi pikiran dengan rekan-rekan sejawatnya ketika ia sudah harus mewujudkannya. Percakapannya “di bawah pohon limau” telah menjadi bagian dari “saga pembentukan” Tarekat MSC.

Pada musim semi tahun 1859 dimulai bagian pertama pembangunan gereja baru. Gedung ini terdiri dari panti imam dengan lengkungnya, tiga jajar pertama ruang tengah dan bagian-bagian untuk bangku-bangku samping. Dengan fasilitas-fasilitas ini kami dimungkinkan untuk melanjutkan latihan-latihan religius kami di kapel sementara itu. Juga pada waktu ini kami tidak merasa pasti entah kami akan memperoleh dana cukup untuk menyelesaikan bagian pertama. Rupanya tidaklah bijaksana untuk mengerjakan seluruh rencana ini.

Dengan mudah anda dapat mengerti bahwa selama pembangunan bagian pertama ini pikiran para Misionaris terus menerus dipenuhi dengan usaha penting ini, demikian juga hati mereka. Mereka pun sering berbicara mengenai usaha tersebut.

Pada tahun 1859 kami biasanya melewatkan rekreasi sore kami sambil duduk di bawah naungan pohon-pohon limau, karena matahari sangat panas. Pada suatu waktu beberapa konfrater hadir, baik dari komunitas kami maupun dari paroki-paroki tetangga. Seperti biasanya, kami membicarakan soal pembangunan gereja – hanya bercakap-cakap santai tanpa banyak berkonsentrasi pada pokok itu.

Tiba-tiba Pater Chevalier, yang rupanya sedang penuh dengan gagasan, bertanya kepada kami: “Nama apa yang akan kita berikan pada kapel Bunda Kita yang berada di dalam gereja kita?”

Kami menjawab sesuai daya tarik dan devosi kami masing-masing. Yang satu berkata: Hati Maria tanpa noda, atau Bunda Kemenangan. Yang lain: Bunda Kita, Bunda Kerahiman, dan yang lain lagi: Bunda Rosario.

“Tidak, tidak,” kata Pater Chevalier. “Kita akan menyebutnya Bunda Hati Kudus. Demikian gelar tercinta ini diucapkan untuk pertama kali dan mereka heran mendengarnya. “Hal itu akan berarti, “ kata Pater Piperon, “permohonan diajukan kepada Bunda Kita di Gereja Hati Kudus.”

“Bukan itu, rekanku terkasih,” kata Pater Chevalier dengan segera. “Gelar ini, ‘Bunda Hati Kudus’, memiliki suatu makna mendalam. Itu berarti bahwa karena keibuannya yang ilahi, Maria mempunyai pengaruh besar terhadap Hati Yesus dan melalui dia kita harus datang ke Hati ilahi ini.”

“Ini adalah sesuatu yang baru…” “Sesuatu yang baru! Tidak seperti yang anda pikirkan. Bagaimana pun juga, di dalam gereja kita akan ada suatu kapel yang dipersembahkan kepada Bunda Hati Kudus.”

“Tapi, apakah hal itu sesuai dengan teologi?” “Tentu saja,” jawab Pater Chevalier. Lalu dengan penuh keyakinan ia mulai menjelaskan alasan-alasan utama yang membenarkan pernyataannya. Pater yang mem-pertanyakan gelar itu mendesak lagi dan berusaha untuk melemahkan argumen Pater Chevalier. Lalu ia menambahkan: “Tidak ada sesuatu yang baru. Anda tahu betul bahwa anda sudah melangkah terlalu jauh. Bagi saya, hal itu nampaknya menyesatkan.”
Tentu saja kata-kata ini, yang diucapkan di tengah kehangatan diskusi, keras namun tidak banyak berpengaruh. Rekreasi mereka berakhir, lalu mereka berpisah.

Bagaimana pun juga, seorang konfrater dari Pater Chevalier menghabiskan sebagian sore hari itu menuliskan pada lengkung atas sekeliling patung Maria tanpa noda, di bawah pohon-pohon tempat mereka berdiskusi, seruan ini: “Bunda Hati Kudus, doakanlah kami.”

Sejak itu gelar baru tersebut menjadi pokok percakapan penting dalam komunitas:

Pada hari itu, setelah makan malan, dua Misionaris (Maugenest tidak hadir) melanjutkan diskusi tentang keabsahan gelar Bunda Hati Kudus. Setiap hari, hampir sepanjang bulan, masing-masing menyodorkan argumen-argumen baru untuk mendukung pendapat masing-masing. Hasil diskusi panjang ini diringkaskan dalam beberapa halaman, yang kemudian menjadi brosur kecil pertama mengenai devosi kepada Bunda Hati Kudus.

Namun gelar itu baru mulai dikenal di luar komunitas ketika bagian pertama dari gereja Hati Kudus diberkati pada 7 Juni 1861, karena pada hari itu jendela Bunda Hati Kudus dipasang di kapel Bunda Kita. Pater pendiri memberi penjelasan tentang gambar itu sebagai berikut:

Saatnya telah tiba untuk memenuhi janji kita secara resmi dan memperkenalkan secara publik gelar yang telah diberikan kepada Maria, Bunda Hati Kudus. Kembali pada 1856, kita telah menulis gelar itu pada alas patung yang merepresentasikan Maria tanpa noda. Setiap hari kita menghormati patung ini, yang berdiri di taman kita di bawah naungan pohon-pohon limau. Kita tidak dapat menyembunyikan lagi harta berharga ini. Suatu pertanyaan muncul mengenai pemilihan tema untuk jendela kaca berwarna yang akan menghiasi tempat suci Bunda Kita. Bentuk apakah yang seharusnya diberikan? Apakah yang akan menjadi ciri-ciri yang menonjol? Barangkali kita perlu menonjolkan kehendak baik dari Yesus terhadap Ibu-Nya dan pengaruh sang Ibu terhadap Hati Puteranya.

Oleh karena itu, kita terikat pada gagasan merepresentasikan Perawan Terberkati, yang berdiri sambil menghancurkan kepala ular yang terkutuk dengan kakinya; mengulurkan tangannya kepada umat beriman, dan mengundang mereka untuk datang menimba dari dia segala rahmat yang dibutuhkan. Di hadapannya berdiri Kanak-Kanak Yesus berumur dua belas tahun. Dengan satu tangan ia menunjuk ke arah Hati-Nya, dan dengan tangan lain Ia menunjuk kepada Ibu-Nya, agar kita memahami bahwa kepa-danyalah kita harus pergi bilamana kita ingin memperoleh segala rahmat, karena dialah sumber-nya.

Representasi: Penggambaran tentang BHK

Dalam buku oleh Pater Piperon diuraikan sebagai berikut:

Dalam merancang jendela Bunda Hati Kudus, Pater Chevalier yang terhormat berusaha mengungkapkan secara menyentuh kuasa mengagumkan dari Maria terhadap Hati Yesus. Untuk maksud itu, ia meminta seorang seniman untuk melukiskan Maria tanpa noda dengan tangan terulur dan mata yang memandang ke bawah pada Yesus. Hal itu berarti juga bahwa ia memandang kepada anak-anaknya, kaum beriman. Dialah Bunda Kita yang dikandung tanpa noda, sebagaimana ia menampakkan diri kepada Suster Katarina Labouré, pengikut Santo Vinsensius de Paul.

Dalam pikiran Pater yang terhormat, gambar ini merupakan juga suatu persembahan tanda terima kasih kepada Perawan tanpa noda, yang telah begitu bermurah hati mengabulkan doa-doanya yang tekun pada 8 Desember 1854.

Kanak-kanak Yesus berusia dua belas tahun akan berdiri di depannya, dengan satu tangan menunjuk ke Hati-Nya, dan tangan lain kepada Ibu-Nya, seakan-akan hendak mengatakan kepada semua orang: “Bilamana anda menginginkan rahmat – Hatiku adalah sumbernya – maka datanglah kepada Ibu-Ku. Dia adalah bendahari yang dapat membagikan sekehendak hatinya segala kekayaan yang terkandung di dalamnya.”

Kanak-kanak Yesus direpresentasikan berusia dua belas tahun, seturut Penginjil Santo Lukas, yang, setelah melaporkan bahwa Yesus ditemukan oleh Maria dan Yosef di tengah kaum terpelajar, menam-bahkan: “Ia pulang bersama mereka ke Nazaret, dan ia tetap hidup dalam asuhan mereka.” Gambar ini dibuat untuk mengungkapkan kuasa pengantaraan Maria terhadap Hati Yesus.

Asal mula dari devosi kepada Bunda Hati Kudus terkait erat dengan pembangunan gereja Hati Kudus di Issoudun. Kita telah melihat di atas bagaimana lukisan pada jendela atas altar Bunda Kita di dalam gereja tersebut menjadi bahan percakapan di bawah empat pohon limau. Sekarang kita harus menelusuri pengaruh jendela itu, yang melukiskan gambar pertama Bunda Hati Kudus, dalam pengembangan devosi tersebut dan dalam penyelesaian gedung gereja Hati Kudus. Cara gereja itu muncul merupakan gambaran cara Tarekat muncul, yakni melalui kehadiran penuh kuasa dari Bunda Hati Kudus. Asal mula keduanya mengibaratkan kehadiran Maria di Kalvari, di mana Gereja dibentuk dari lambung Yesus yang tertikam.

Ada tiga representasi:

  1. Patung besar di Kapel Bunda Hati Kudus, dengan Yesus yang berdiri di depan Maria.
  2. Patung di gua (crypt), yakni yang lebih dikenal: Kanak-Kanak Yesus di pangkuan Maria.
  3. Kalvari di basilik: Yesus di salib dan Maria di kaki Kalvari.


I.     REPRESENTASI PERTAMA: DISARANKAN OLEH PATER CHEVALIER

Yang pertama-tama adalah kaca jendela berwarna, lalu muncul patung marmer besar di kapel. Ada dua pribadi, yakni Maria dan Yesus:

  • Bunda Hati Kudus tidak pernah direpresentasikan sendirian, seperti misalnya Maria yang dikandung tanpa noda atau Maria dari Lourdes, dsb.
  • Praktek kesalehan kristen telah sering merepresentasikan Perawan Maria sendirian atau Maria dengan seorang anak di pangkuannya.

Dua tokoh yang direpresentasikana adalah YESUS dan MARIA.
1.     Pater Chevalier mempunyai devosi besar kepada Maria:

  • sebagai seorang anak ia dipersembahkan kepada Maria (Lihat Richelieu, Bunda Keajaiban)
  • kemudian, devosi ini berlanjut. Pada 1830, ketika Chevalier berumur 6 tahun, Maria menampakkan diri kepada Katarina Labouré di Paris. Maka, ada gerakan devosi Maria yang besar di Perancis sambil menyebarkan medali kramat. Jutaan medali ini disebarkan.
  • di seminari Jules Chevalier mempelajari spiritualitas yang disebut sekolah Perancis, yang dicirikhaskan oleh devosi besar dari Yohanes Eudes dan Olier.

2.     Pater Chevalier mempunyai devosi besar kepada Yesus (sekolah spiritualitas Perancis):

  • Yesus di hadapan mata, di dalam hati, di tangan.
  • Penemuan Hati Kristus, pusat segala sesuatu; pengalaman pribadi.
  • Hati Kudus adalah pusat segala sesuatu.
  • Maria dilihat dalam relasi dengan pusat ini: suatu anugerah Hati Yesus yang menghantar ke Hati Yesus, dan seterusnya.
  • Melalui intuisi rohani ia membuat sintese dua devosi ini: BUNDA HATI KUDUS.

 

II. REPRESENTASI KEDUA: YESUS DI PANGKUAN MARIA – SEKITAR 1875

Mengapa ada perubahan seperti dituntut oleh Roma?

  1. Roma tidak menyukai jenis patung Perancis.
  2. Beberapa contoh dianggap tidak baik: anak terlalu kecil dan di kaki IbuNya.
  3. Bahasa kadang-kadang berarti ganda: Maria menjadi penguasa (sovereign), Ratu Hati Yesus..

Di Roma sudah dibuat sebuah patung, yakni Yesus sebagai seorang anak, dengan hatiNya yang kelihatan jelas, sambil memegang kedua tanganNya mengarah kepada kita. Pater Chevalier menolak patung ini. Ia menerima Yesus dalam tangan IbuNya, dan apa yang diiginkannya adalah patung dengan isyarat berikut:

  • Yesus yang sedang menunjuk ke hatiNya
  • dan menunjuk kepada Ibu-Nya
  • dan Maria menunjuk ke Hati Yesus.

III.REPRESENTASI KETIGA: MARIA DI BAWAH SALIB –  KALVARI DI BASILIK, 1964

Sesudah Konsili Vatikan II ada perasaan alergi mengenai Hati Kudus. Hal ini dirasakan berkaitan dengan patung-patung dan juga bahasa. Dirasakan kebutuhan untuk kembali ke sumber devosi atau spiritualitas hati:

  • Yesus di salib
  • Yesus wafat
  • dengan lambungNya yang tertikam dengan tombak dan mengalirkan darah dan air (Yoh 19)
  • “Mereka akan memandang kepada Dia yang telah mereka tikam” (Zak 12:10). Zakaria melanjutkan: “Pada waktu itu akan terbuka suatu sumber bagi keluarga David dan bagi penduduk Yerusalem untuk membasuh dosa dan kecemaran.” (Zak 13:1). Hal itu mengingatkan kita akan teks-teks lain seperti Yeheskiel 35:25 (perecikan air suci), Yeh 36:26 (janji tentang hati yang baru), Yeh 46 (sumber di sisi kanan Bait Allah), Yoh 2:19 (Yesus memaklumkan diriNya ketika ia berada di Bait Allah).

 

Maria di kaki salib bersama dengan Yohanes:

  • ia memandang; – ia berkontemplasi; – ia mengerti (dan membantu Yohanes mengerti)

 

Marilah kita melihat Kalvari di dalam basilik:

  • Maria sedang berkontemplasi
  • ia sedang mengundang kita untuk berkontemplasi bersama dia
  • ia sedang menyambut sumber itu, baginya dan bagi kita
  • ia sedang mengundang kita untuk berbuat seperti dia, untuk berada bersama dia bagi orang-orang lain.
  • Maria di bawah salib sangat disukai oleh Pater Chevalier, karena di tempat inilah ia menjadi Ibu kita.


Kiriman    :    Andika
Sumber    :      http://ameturindonesia.wordpress.com

Share

Berlangganan Warta

Silakan masukkan Nama dan Email untuk berlangganan Warta dari website secara teratur.


Receive HTML?

Informasi Umum

Misa Mingguan

Sabtu 17:30
Minggu 08:00, 17:30

Misa Harian

Senin-Jumat 17:30

Alamat Surat
Paroki Santa Theresia Balikpapan
 
Jalan Prapatan RT 23 No 1A 
Telpon 0542-421952 
Balikpapan

Pastor Paroki:
P. Frans Huvang Hurang MSF

Pastor Rekan:
P. Krispinus Andy Hasti MSF
P. Yan Mangun, Pr.

Suara Umat
suaraumat@santatheresia.org