Kalender Kegiatan

No events
November 2018
S M T W T F S
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 1

Login Pengguna

Artikel

Hidup keagamaan yang Palsu

Diterbitkan pada 17 Februari 2014
Ditulis oleh Romulus Narrotama

 

Hidup  keagamaan yang Palsu

Bacaan

Sir 15:15-20  1 Kor 2:6-10  Mat 5:17-37

PENGANTAR


     Injil Matius Hari Minggu ini adalah petikan dari ajaran dasar Yesus, yang terdapat dalam Khotbah-Nya di Bukit (Mat 5-7). Dari pelbagai perbedaan di antara hukum yang berlaku dalam Perjanjian Lama dan dalam Perjanjian Baru, yang disebut  Yesus dalam Injil itu, sikap dasar hidup keagamaan kita terhadap Allah dan sesama diungkapkan-Nya dalam kata-kata berikut ini: “Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 5:20). Marilah kita berusaha memahami makna hidup keagamaan kristiani yang benar menurut  ajaran Yesus tersebut.

HOMILI
     Hidup  keagamaan kita sangat menentukan sikap, hidup dan perbuatan kita terhadap Allah dan sekaligus terhadap sesama kita.

Yang dimaksudkan di sini ialah hidup keagamaan kita sebagai orang yang sungguh beriman kristiani. Agama atau kepercayaan yang dianut orang menurut keyakinan masing-masing pada umumnya adalah baik dan bertujuan menolongnya untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah yang diimaninya. Tetapi dalam kenyataannya pelaksanaan penghayatan hidup beragama oleh banyak itu berbeda. Yang berbeda bukan hanya isi ajaran agamanya atau bentuk dan cara pelaksanaannya yang tampak, melainkan juga dan terutama sikap dasar atau suara batin yang menggerakan hidup dan sikap menghayati keagamaannya masing-masing.

     Sebagai contoh ada beberapa fakta. Misalnya di Sampang, Madura, aliran agama Islam Syiah tidak diterima dengan baik oleh sesama umat Muslim setempat. Di tempat lain lagi ada rumah ibadat Islam Ahmadyah dirusak. Ada juga di tempat lain suatu gedung gereja Protestan dan Katolik dirusak. Di Ciledug di Jawa Barat, umat Katolik   sesudah menunggu bertahun-tahun akhirnya memiliki surat IMB dari Pemerintah untuk membangun gereja untuk paroki.Tetapi sampai sekarang pembangunannya belum dapat dilaksanakan, karena tetap ada golongan agama lain yang menentangnya.

     Co